Kepala Humas Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Ummat Mustofa Nahrawardaya memastikan, mundurnya 26 pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Ummat Kota Depok bukanlah hal yang mengkhawatirkan bagi internal partai. Sebab kata dia, disaat yang bersamaan dengan pernyataan mundurnya puluhan pengurus itu, setidaknya ada 18 Provinsi di Indonesia yang membentuk kepengurusan Permata Ummat yang beranggotakan kader perempuan. Namun, Mustofa tidak menjelaskan secara detail Provinsi mana saja yang membentuk kepengurusan perempuan Permata Ummat itu.

Dirinya hanya menjelaskan kalau Ketua Umum dari kepengurusan Permata Ummat secara Nasional itu merupakan mantan ketua DPP dari Partai Amanat Nasional (PAN) Periode 2010 2020. Sedangkan yang meresmikan terbentuknya kepengurusan perempuan Permata Ummat itu sendiri yakni Amien Rais yang merupakan pendiri Partai Berlogo Bintang Emas itu. "Yang spesial adalah, Ketua Umum Permata Ummat secara Nasional, adalah Ketua DPP PAN periode 2010 2020," kata Mustofa.

"Di saat Depok ada yang undur diri, maka di Kantor DPP Partai Ummat malah sedang ada pemukulan beduk oleh Prof. Dr. Amien Rais sebagai tanda berdirinya sayap baru di Partai Ummat," sambungnya. Tak hanya itu, Mustofa meyakinkan kalau para pengganti dari pengurus DPD Kota Depok yang hengkang tersebut sudah siap diumumkan dalam waktu dekat. Bahkan kata dia, hari ini anggota baru yang menggantikan para eks pengurus DPD tersebut sudah ada dalam daftar.

"Seperti di Depok, beberapa saat usai undur diri, insya Allah hari ini pengurus baru sudah jadi. Nanti diumumkan secepatnya," katanya. Dengan begitu, pria yang karib disapa Tofa itu menegaskan kalau mundurnya puluhan pengurus DPD Kota Depok, tidak akan berpengaruh pada Partai besutan Amien Rais tersebut. Terlebih yang memutuskan untuk mundur hanya dalam jumlah kelompok kecil dan tidak signifikan mengubah kondisi internal Partai.

"Secara cepat, kekosongan itu langsung terisi oleh pengurus baru. Jadi, sama sekali tidak mempengaruhi Partai Ummat," tandasnya. Sebelumnya, Tofa membenarkan sebanyak 26 pengurus DPD Partai Ummat Kota Depok memutuskan untuk mundur dari kepengurusan Partai. Itu kata dia, karena adanya dualisme. Dirinya menegaskan kalau hal tersebut merupakan dinamika yang kerap terjadi dalam kepengurusan Partai Politik.

"Iya betul (adanya dualisme), itu dinamika namanya. Dualisme hanya ada di beberapa struktur daerah. Biasa begitu," katanya. "Ini kan besar sekali pengurus kita. Tapi setelah SK Partai Ummat diterima dari Kuemenkumham pada 20 Agustus silam, yang ada dualisme kepengurusan akan menjadi satu, alias, harus ada satu kepengurusan saja," sambungnya. Lebih lanjut dia mengatakan, mundurnya beberapa pengurus atau bahkan sebelumnya dua elit Partai Ummat yakni Agung Mozin dan Neno Warisman merupakan suatu bentuk penyeleksian keanggotaan.

Sebab saat ini kata dia, Partai besutan Amien Rais itu sedang memastikan, seluruh struktur pengurus Partai harus solid secara nasional. "Jadi, yang ragu, atau tidak yakin bisa menyesuaikan dengan speed 'RPM' partai ini, akan kena seleksi alam alias tereliminasi dengan sendirinya. Ada yang sifatnya individual, ada yang sifatnya berkelompok," beber dia. Namun, pihaknya tidak mengkhawatirkan hal tersebut, karena kata Tofa, antusiasme tokoh atau kelompok masyarakat yang ingin bergabung dengan Partai Ummat di berbagai wilayah cukup tinggi.

Hal tersebut yang justru dinilai oleh kepengurusan DPP Partai Ummat sebagai sebuah tantangan. "Justru kesulitan kami, adalah bagaimana mengakomodir tingginya antusiasme tokoh atau komunitas besar masyarakat yang ingin masuk bergabung ke gerbong kami/Partai Ummat," ucapnya. Dirinya mencontohkan dengan terbentuknya Permata Ummat yakni kelompok perempuan yang bergabung dalam Partai Ummat dan sudah diresmikan pada Sabtu (9/10/2021) kemarin, oleh Amien Rais.

"Yang spesial adalah, Ketua Umum Permata Ummat secara Nasional, adalah Ketua DPP PAN periode 2010 2020," kata Tofa. "Di saat Depok ada yang undur diri, maka di Kantor DPP Partai Ummat malah sedang ada pemukulan beduk oleh Prof. Dr. Amien Rais sebagai tanda berdirinya sayap baru di Partai Ummat," lanjutnya. Kendati begitu, Tofa memastikan kalau seluruh pengurus dan anggota partai serta mantan pengurus dan anggota partai masih memiliki tujuan yang sama.

Hanya saja kata dia strategi yang dilakukan akan berbeda namun, hasilnya dia yakini akan sama dengan apa yang sudah dicanangkan oleh Partai Ummat. "Meski begitu, saya yakin, baik yang keluar maupun yang masih di dalam, tetap masih dalam satu tujuan yang sama, yakni dakwah amar ma'ruf, nahi mun kar. Juga dalam rangka menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Prinsip sama, strategi berbeda, dan insya Allah hasilnya sama," tukas Tofa. Sejumlah pengurus dan kader Partai bentukan Amien Rais, Partai Ummat ramai ramai mengundurkan diri.

Setelah Agung Mozin dan Neno Warisman, terkini para pengurus DPD Partai Ummat Kota Depok berjumlah 26 orang menyatakan mundur. Sebelumnya, Neno Warisman, anggota Majelis Syuro dan Agung Mozin, Sekretaris Dewan Majelis Syuro Partai Ummat, tercatat salah seorang pendiri partai ini. Bahkan eks Wakil Ketua DPD Partai Ummat, Syahrial Chan mengatakan sekarang sudah ada 31 orang yang mundur di DPP Partai Ummat Kota Depok.

"Hanya saja belum terdata, tetapi sudah menyatakan mundur," kata Syahrial. Selain pengurus, diketahui juga seluruh pengurus dari empat DPC Partai Ummat Kota Depok membubarkan diri. Keempatnya DPC yakni DPC Partai Ummat Kecamatan Cilodong, DPC Partai Ummat Kecamatan Beji, DPC Partai Ummat Kecamatan Pancoran Mas, dan DPC Partai Ummat Kecamatan Sukmajaya.

Lalu apa alasan para kader dan pengurus Partai Ummat itu mengundurkan diri? Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Ummat Chandra Tirta Wijaya mengatakan dualisme kepemimpinan memang terjadi di beberapa dewan pimpinan daerah (DPD). Chandra sendiri menegaskan Dewan Pimpinan Pusat Partai Ummat tetap solid.

"Maksudnya dualisme di beberapa DPD, bukan pusat. (Kalau pusat) solid," kata Chandra, Rabu (6/10/2021) lalu. Chandra mengatakan dualisme kepengurusan itu terjadi karena kader di daerah sangat antusias untuk memimpin partai. Partai Ummat, kata Chandra, sedang mencarikan solusi mengenai dualisme di daerah itu.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Ummat Ridho Rahmadi dua hari lalu mengungkapkan mundurnya Neno Warisman dan beberapa pendiri partai hanyalah masalah kecil. "Insha Allah itu persoalan yang kecil, ini bukan kami takabur, tapi Insha Allah persoalan yang kecil, adapun yang keluar, satu satu itu Insha Allah itu hal yang kecil," kata Ridho. Diketahui, sejauh ini terdapat dua nama petinggi Partai Ummat yang memutuskan mundur menjadi pengurus Partai.

Mereka adalah Neno Warisman yang menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro sekaligus penggagas Partai Ummat dan Agung Mozin yang merupakan Wakil Ketua Umum DPP Partai Ummat. Ridho menyebut yang saat ini menjadi tantangan pihaknya adalah animo dari beberapa kader di daerah yang ingin masuk sebagai pengurus. "Justru tantangan atau yang sedikit komplek bagi kami saat ini adalah animo yang relatif besar terutama di beberapa daerah, kan kalau animo itu kan biasanya ingin masuk sebagai pengurus dan ingin pada posisi yang representative," bebernya.

Ridho juga menegaskan kalau mundurnya Neno Warisman dan Agung Mozin juga tidak akan mempengaruhi kondisi internal Partai terlebih dalam menyambut Pemilu 2024. Menantu dari Amien Rais ini juga tidak mengetahui secara pasti apakah kedua eks elit partai tersebut akan kembali lagi atau tidak. Sebab, keputusan Neno Warisman maupun Agung Mozin untuk mundur dari partai kata Ridho merupakan pilihan pribadi.

"Nah memang mereka keluar, mengundurkan diri ya, jadi untuk kembali lagi, kita tidak tahu," ucapnya. Neno Warisman ia menjelaskan, mundur dari Partai Ummat karena sang anak yang bertempat tinggal di Turki. Kendati untuk Agung Mozin, dirinya tidak menjabarkan secara detail alasan dari eks Waketum Partai Ummat itu.

"Tapi kalau sekarang memang mengundurkan diri, alasannya sudah disampaikan, kalau bunda Neno, itu karena anaknya di Turki, memang jauh, sekitar awal Mei itu memang menceritakan tentang anaknya ada di Turki," ucapnya. "Insya Allah tidak ada alasan yang terakomodir, perpecahan juga insya Allah tidak, kita Insya Allah solid dan tadi tantangannya adalah untuk orang orang baru ini bagaimana supaya bisa direpresentatif," ujar Ridho. Agung Mozin, Wakil Ketua Umum Partai Ummat menyatakan berhenti dari Partai Ummat.

Pengunduran dirinya disampaikan langsung dalam surat yang ditujukan kepada Ketua Majelis SyuraPartai UmmatM Amien Rais. Berikut isi lengkap surat pengunduran diri yang dibuat Agung Mozin. Kepada Yth. Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Prof. Dr. M. Amien Rais, M.A di Y o g y a k a r t a. Assalamu’alaikum w.w Ba’da salam, sebagai Pendiri Partai Ummat bersama para sahabat lainnya marilah kita bersyukur kepada Allah SWT. Atas terbitnya Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor: M.KH Kep13.AH.11.01 Tahun 2021 tertanggal 20 Agustus 2021 tentang Pengesahan Badan Hukum Partai Ummat.

Atas nama pribadi yang diamanahkan sebagai Wakil Ketua Umum Partai Ummat saya sampaikan terima kasih dan penghargaan tak terhingga kepada segenap pihak khususnya para sahabat pengurus, anggota, dan simpatisan Partai Ummat yang telah bekerja keras hingga terbitnya Pengesahan Badan Hukum Partai Ummat tersebut, teriring do’a Allah SWT memberkahi ikhtiar dan ibadah kita, aamiin. Selanjutnya memperhatikan dengan seksama dinamika internal partai, sekat sekat informasi dan komunikasi elitis yang tidak mengedepankan akhlakul karimah, seraya mempertimbangkan beragam informasi dan aspirasi para sahabat Partai Ummat di berbagai daerah termasuk sahabat sahabat aktivis demokrasi yang istiqomah konsisten konsekuen melawan feodalisme dan dinasti politik, dengan ini saya AGUNG MOZIN menyatakan BERHENTI sebagai Pengurus dan Anggota Partai Ummat sebagai bentuk pertanggungjawaban etika dan moral. Momentum terbitnya Pengesahan Badan Hukum Partai Ummat kiranya bisa menjadi kontemplasi kerja kerja politik ke depan. Hanya Kepada Allah kita bertawakal, semoga upaya saya dan para sahabat lainnya yang telah mengantarkan Berdirinya Partai Ummat bisa dimaknai sebagai amanah ummat yang harus dipertanggungjawabkan di hadirat Allah SWT. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’malmaula wani’mannasiir. Allahu’alam. Billahi fii sabililhaq, Fastabiqul Khairat

Wassalamu’alaikum w.w Awal Oktober lalu, Neno Warisman, figur publik kawakan yang menjabat Anggota Majelis Syuro Partai Ummat juga mundur dari partai bentukan Amien Rais tersebut. Sekretaris Dewan Majelis Syuro Partai Ummat, Ustaz Sambo membenarkan hal tersebut.

Sambo mengatakan Neno mundur per Jumat (1/10/2021). "Dia kirim WA ke kita kirim surat mudur karena mau fokus urus anaknya di Turki karena tidak bisa aktif jadi khawatir tidak bisa aktif fokus urus anaknya, jadi mundur," kata Sambo saat dikonfirmasi, Sabtu (2/10/2021). Pesan WA tersebut, dikatakan Sambo, ditujukan langsung kepada Amien Rais.

Sambo menambahkan pihaknya tak bisa melarang hak seseorang untuk mengambil keputusan. "Cuma kita ada mekanisme, kita akan rapat majelis suro keputusannya di majelis syuro," katanya. Sambo pun bicara soal langkah ke depan Partai Ummat tanpa Neno Warisman maupun Agung Mozin.

"Majelis Syuro kan sifatnya bukan bekerja tapi berpikir begitu. Jadi yang bekerja DPP kita memberi masukan masukan yang bekerja DPP," tandasnya. Sebelumnya, Wakil Ketua DPW Partai Ummat Sumatera Barat HM Tauhid juga menyatakan mundur dari kepengurusan Partai Ummat. Tauhid mengundurkan diri sehari setelah Agung Mozin, loyalis Amien Rais dan salah satu pendiri Partai Ummat yang menyatakan pengunduran diri.

Pengunduran Tauhid di Partai Ummat dikonfirmasi oleh Agung Mozin. Agung turut membagikan salinan surat pengunduran diri Tauhid di Partai berlogo bintang emas itu. Surat pengunduran diri itu tertulis tanggal 27 Agustus 2021 dan dibubuhi tanda tangan di atas materai dan ditujukan kepada Ketua DPW Partai Ummat Sumatera Barat.

"Karena ikut berkhidmatnya saya dalam Partai Ummat ini salah satunya atas seruan dakwah beliau, bersama ini saya H.M. Tauhid Wakil Ketua DPW Partai Ummat Provinsi Sumatera Barat menyatakan berhenti sebagai pengurus dan anggota Partai Ummat," tulis Tauhid dalam surat pengunduran diri yang ditulis Jumat (27/8/2021). Alasan Tauhid mundur dari partai itu, ia mengaku prihatin atas mundurnya Agung Mozin sebagai tokoh sentral dan penggagas pendirian partai dan mengajak banyak orang untuk bergabung di partai ini. Tauhid juga merasa prihatin atas dinamika internal partai yang menurutnya banyak terjadi sekat sekat informasi dan komunikasi.

"Komunikasi elitis yang tidak mengedepankan akhlakul karimah, serta praktik feodalisme dan dinasti politik," ujarnya. Dalam surat pengunduran dirinya, Tauhid turut menyinggung respons Sekretaris Syuro Partai Ummat, Ansufri Idrus Sambo. Menurutnya, Sambo berperan dalam memutuskan dan menyatakan menerima pengunduran diri Agung Mozin melalui surat yang ditulis pada 26 Agustus 2021.

Tauhid menilai tindakan Sambo yang memutuskan menerima pengunduran diri itu patut diduga merupakan bentuk kesewenangan. Sebab, Sambo dinilai tak mencerminkan akhlakul karimah tanpa adanya tabayyun, islah, ataupun konfirmasi dan klarifikasi. Tak hanya itu, Tauhid juga merespons pernyataan Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Malam Sambat Kaban, dalam sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Dalam diskusi itu, Kaban mengaku tak mengetahui pengunduran diri Agung Mozin dari Partai Ummat. Atas pernyataan Kaban, Tauhid menduga hal itu mempertegas lemahnya demokratisasi di tubuh internal Partai Ummat. "Pernyataan itu patut diduga memperjelas lemahnya demokratisasi di internal Partai Ummat," kata Tauhid.

Saat dikonfirmasi, Syahrial Chan yang merupakan eks Wakil Ketua DPD Partai Ummat membenarkan informasi tersebut. "Dinamika itu sudah wajar dan ada dualisme kepengurusan. Tak ada kemampuan DPP mengorganisir di 11 kabupaten/kota di Jawa Barat," katanya. Padahal, dikatakan Syahrial, pihaknya sudah mengantongi surat keputusan yang sah DP Partai Ummat dengan nomor : 0217/01.32.76/SK Kep ll/DPP.PU/V/2021 tertanggal 30 April 2021.

"Dan menjadi satu satunya Dewan Pimpinan Daerah Partai Ummat Kota Depok yang sah berdasarkan SURAT KETERANGAN KESBANGPOL KOTA DEPOK bernomor : 220/294/Kesbangpol/2021 tertanggal 3 Mei 202," kata Syahrial. Bahkan, Syahrial mengatakan bahwa sekarang sudah ada 31 orang yang mundur di DPP Partai Ummat Kota Depok. "Hanya saja belum terdata, tetapi sudah menyatakan mundur," kata Syahrial.

Selain pengurus, diketahui juga seluruh pengurus dari empat DPC Partai Ummat Kota Depok membubarkan diri. Keempatnya DPC yakni DPC Partai Ummat Kecamatan Cilodong, DPC Partai Ummat Kecamatan Beji, DPC Partai Ummat Kecamatan Pancoran Mas, dan DPC Partai Ummat Kecamatan Sukmajaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.